Kamis, 24 Maret 2011

Tuberkulosis (TB) “Air Borne Diseases”

“Air Borne Diseases”
Tuberkulosis (TB)

Karina Fitriani
Mahasiswa FKM UNDIP

A.Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan orang ke orang.(WHO) Ini juga salah satu penyakit tertua yang diketahui menyerang manusia. Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus.

B.Epidemiologi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, khas ditandai dengan terjadinya pembentukan granuloma dan nekrosis. Infeksi ini paling sering mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai organorgan tertentu.
Cara penularan TB paru dapat terjadi secara langsung melalui percikan dahak yang mengandung kuman TB, terisap oleh orang sehat melalui jalan napas dan kemudian berkembang biak di paru. Dapat juga terjadi secara tidak langsung bila dahak yang dibatukkan penderita ke lantai atau tanah kemudian mongering dan menyatu dengan debu, lalu beterbangan di udara; bila terisap orang sehat akan dapat menjadi sakit. Berdasarkan cara penularan ini, TB paru juga dimasukkan dalam golongan airbone disease.
TB paru masih merupakan masalah kesehatan utama di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, di mana sebagian besar penduduknya hidup di pedesaan dengan derajat kesehatan yang masih rendah. Untuk Indonesia keadaan ini tercermin pada prevalensi TB paru dengan BTA (+) yang masih cukup tinggi yaitu 0,3 persen, berarti di antara 1000 orang penduduk Indonesia dapat dijumpai 3 orang penderita TB paru yang masih potensial menular. Di Indonesia TB paru merupakan penyebab kematian nomor empat setelah penyakit infeksi saluran napas bawah, diare dan penyakit jantung koroner. Penyebaran infeksi TB dapat melalui :
• Percabangan bronkus, menyebar ke paru yang lain, taring, dan juga dapat ke saluran cerna.
• Sistem limfe, menyebabkan limfadenopati regional atau secara tak langsung melalui duktus limfatikus masuk ke dalam darah, menimbulkan penyebaran miller.
• Aliran darah, pembuluh balik pulmoner dapat membawa bahan-bahan yang infektif, menyebar jauh terutama ke tulang, ginjal, kelenjar adrenal, otak dan selaput otak.
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai « Global Emergency ». Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah pendduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu 350 per 100.000 pendduduk.

C.Etiologi Tuberkulosis

•Agent TB
Penyakit TB (tuberculosis) disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis. Infeksi ini paling sering mengenai paru, akan tetapi dapat juga meluas mengenai organ-organ tertentu.

•Host penyakit TB
Hospes definitif adalah hospes tempat parasit, hidup dan tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak secara seksual. Hospes dari penyakit TB adalah manusia.

•Environment
Penyakit TB dipengaruhi oleh factor lingkungan fisik yaitu berupa udara,air dan sanitasi tempat tinggal yang buruk, lingkungan biologi penyakit TB yaitu bakteri tuberculosis atau Mycobacterium tuberculosis. Sedangkan lingkungan sosial penyakit TB dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal, peran keluarga , kebiasaan hidup masyarakat, sistem pelayanan kesehatan yang masih kurang memadai ,dan ekonomi.

D.Jenis-jenis Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) di golongkan menjadi 2 bagaian,yaitu :

1.Tuberkulosis primer Infeksi primer terjadi sebagian besar pada anak-anak umur di atas 5 tahun. Sumber penularan berasal dari penderita yang mengeluarkan kuman, biasanya dengan kontak erat terus menerus. Empat minggu setelah kuman TB masuk melalui saluran napas, akan terjadi fokus primer di paw, diikuti dengan pembesaran kelenjar getah bening hilus/regional. Fokus primer yang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional dikenal dengan kompleks primer.

2.Infeksi Tuberkulosis post primer Infeksi post primer diartikan terjadinya TB paru setelah beberapa saat mendapatkan infeksi primer dan telah timbul reaksi hipersensitivitas. Dalam hal ini termasuk kasus-kasus reinfeksi atau reaktivasi dari infeksi yang terjadi beberapa tahun kemudian. Reaktivasi cenderung terjadi pada usia produktif, biasanya berkisar di antara 15 – 40 tahun. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya reaktivasi ini adalah gangguan pada system imunologik tubuh. Tuberkulosis post primer biasanya paling sering terletak pada segmen apikal lobus atas maupun lobus bawah.

E.Gejala-gejala timbulnya Penyakit Tuberkulosis (TB)

i.Gejala sistemik (umum), berupa :
a) Demam
Salah satu keluhan pertama penderita TB paru adalah demam seperti gejala influenza. Biasanya demam dirasakan pada malam hari disertai dengan keringat malam, kadang-kadang suhu badan dapat mencapai 40° – 41° C. Serangan seperti influenza ini bersifat hilang timbul, dimana ada masa pulih diikuti dengan se rangan
berikutnya setelah 3 bulan, 6 bulan, 9 bulan (dikatakan sebagai multiplikasi 3 bulan). Rasmin mengatakannya sebagai serangan influenza yang melompat-lompat dengan masa tidak sakit semakin pendek dan masa serangan semakin panjang.
b)Gejala yang tidak spesifik
TB paru adalah peradangan yang bersifat kronik, dapat ditemukan rasa tidak enak badan (malaise), nafsu makan berkurang yang menyebabkan penurunan berat badan, sakit kepala dan badan pegal-pegal. Pada wanita kadang-kadang dapat dijumpai gangguan siklus haid.

ii.Gejala respiratorik (paru)
a) Batuk
Pada awal teljadinya penyakit, kuman akan berkembang biak di jaringan paru; batuk baru akan terjadi bila bronkus telah terlibat. Batuk merupakan akibat dari terangsangnya bronkus, bersifat iritatif. Kemudian akibat terjadinya peradangan, batuk berubah menjadi produktifkarena diperlukan untuk.membuang produk-produk ekskresi dari peradangan. Sputum dapat bersifat mukoid atau purulen.
b) Batuk darah
Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah; berat atau ringan nya batuk darah tergantung dari besarnya pembuluh darah yang pecah. Gejala batuk darah ini tidak selalu terjadi pada setiap TB paru, kadang-kadang merupakan suatu tanda perluasan proses TB paru. Batuk darah tidak selalu ada sangkut pautnya dengan terdapatnya kavitas pada paru.
c) Sesak napas
Sesak napas akan terjadi akibat luasnya kerusakan jaringan paru, didapatkan pada penyakit paru yang sudah lanjut. Sedangkan pada penyakit yang baru tidak akan dijumpai gejala ini.
d) Nyeri dada
Biasanya terjadi bila sistem saraf terkena, dapat bersifat local atau pleuritik.

F.Pengobatan Penyakit Tuberkulosis

•Isoniasid ( H )
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90 % populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sanat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang,Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kk BB,sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB.
•Rifampisin ( R )
Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semi –dormant ( persister ) yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk mengobatan harian maupun intermiten 3 kal seminggu.
•Pirasinamid ( Z )
Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB ,sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg BB.
•Streptomisin ( S )
Bersifat bakterisid . Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama penderita berumur sampai 60 tahun dasisnya 0,75 gr/hari sedangkan unuk berumur 60 tahun atau lebih diberikan 0,50 gr/hari.
•Etambulol ( E)
Bersifat sebagai bakteriostatik . Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg/BB.
•Prinsip pengobatan
Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persister) dapat dibunuh.Dosis tahap intensif dan dosis tahap lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada saat perut kosong. Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu pengobatan), kuman TBC akan berkembang menjadi kuman kebal obat (resisten). uNtuk menjamin kepatuhan penderita menelan obot , pengobatan perlu dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT=Direcly Observed Treatment) oleh seorang pengawas Menelan Obat (PMO ) Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap yaitu tahap intensif dan lanjutan.

G.Penanggulangan Tuberkulosis (TB)

Prinsip control disease untuk penyakit TB :
•penderita
1.Pengobatan para penderita Tuberkulosis biasanya dengan melakukan perawatan intensif di rumah sakit,agar di dapat pengawasan langsung,untuk menjamin keteraturan pengobatan.
2.Lakukan identifikasi segera terhadap semua penderita,agar dapat mengantisipasi penyebaran.

•Contact Person/ perorangan pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
1.Penggunaan vaksin BCG (bacille Calmette -Guerin).
Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. Vaksin BCG merupakan suatuattenuated vaksin1 yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen imunisasi aktif terhadap TBC dan telah digunakan sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 – 80% di seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko terjadinya active tuberculosisdan kematian. Efikasi dari vaksin tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara/teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
2.Pengobatan pada pasien latent tuberculosis.
Laten TB adalah di mana pasien terinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis , tetapi tidak memiliki penyakit TB aktif. Pasien dengan TB laten yang tidak menular, dan tidak mungkin untuk mendapatkan TB dari seseorang dengan TB laten.
3.Pengobatan pada pasien active tuberculosis dengan menggunakan antibiotik (isoniazid, rifampin, dsb) selama kurang lebih 6 bulan.
4.Menghindari udara dingin.
5.Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur.
6.Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari.
7.Memakan Makanan yang tinggi karbohidrat dan tinggi protein.
8.Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
• www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2007.pdf
• www.who.int/tb/publications/2006/istc_report.pdf -
• http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/05_DiagnosisTuberkulosisParu.pdf/05_DiagnosisTuberkulosisParu.pdf

• http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/04_MasalahPenyakitTuberkulosis.pdf/04_MasalahPenyakitTuberkulosis.pdf

Senin, 21 Maret 2011

diare

“food and Water Borne Diseases”

A.Pengertian Diare
Diare menurut WHO didifinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.Diare juga merupakan keadaan frekuensi buangair besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi fesesencer dapat berwarna hijau atau dapat pulabercampur lendir dan darah atau lendir saja, (WHO.1980)
Diare adalah adalah kondisi di mana terjadifrekuensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3kali per hari) serta perubahan dalam isi (lebihdari 200 gram per hari) dan konsistensi (fesescair . Pada definisi ini elas menyebutkan frekuensi diare terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari.

(smeltzer,2002)
Definisi diare yang diberikan oleh Depkes RI(2003) adalah penyakit yang ditandai denganperubahan bentuk dan konsistensi fesesmelembek sampai mencair dan bertambahnyafrekuensi buang air besar (BAB) lebih banyakdari biasanya (lazimnya 3 kali atau lebih dalam sehari).

B.Epidemiologi Diare
Diare adalah buang air besar ( defekasi ) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair ( setengah padat ), dengan kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gr atau 200 ml/24 jam. Diare infeksi dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit. Diare akut merupakan masalah umum yang ditemukan di seluruh dunia. Seperti di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien, sementara di beberapa Rumah sakit di Indonesia data menunjukkan bahwa diare akut karena infeksi terdapat pada peringkat pertama s/d ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke Rumah sakit. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) dengan penderita yang cukup banyak dan dalam waktu singkat.
Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Penyakit menular yang disebabkan oleh perantaraan air secara langsung biasannya dikalangan masyarakat disebut penyakit bawaan air “Water Borne Diseases”. Penyakit-penyakit ini hanya bisa menyebar apabila mikro organisme penyebabnya dapat masuk kedalam sumber air yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, jenis mikroba yang dapat menyebar lewat air seperti virus, bakteri protozoa dan metazoa. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan melalui air yang disebabkan oleh bakkteri vibrio cholera, E. Coli, Salmonella paratyphi dan shigella dysentriae yang disebabkan oleh protozoa entamoeba histolytica dan sebagainnya. E. Choli patogen adalah penyebab utama diare khususnya pada orang-orang yang suka berpergian atau sering disebut pelancong.

C.Etiologi Diare
• Agent Diare
Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus,parasit,jamur, tetapi juga seringkali akibat dari racun bakteria,yaitu :
 Bakteri
Escherichia coli, Shigella spp., Salmonella spp., Campylobacter jejuni, Yersinia
enterocolitica, Vibrio cholerae, Vibrio parahaemolyicus, Staphylococcus aureus,
Bacillus cereus, Clostridium botulinum, Clostridium difficile, Clostridium
perfrigens, Mycobacterium tuberclosis.
 Virus
Rotavirus, Calcivirus/Norwalk virus, Adenovirus(Ad40 dan Ad41),Astrovirus,
Echovirus.
 Protozoa
Entamoeba histolytica, Balantidium coli, Giardia lamblia, Cryptosporodium
parvum.
 Jamur
Candida albicans, Manita phalloides.
 Cacing
Ascaris lumbricoides, Strongyloides stercoralis, Trichuris trichiura.
Di Indonesia, sebagian besar diare pada bayi dan anak disebabkan oleh infeksi rotavirus. Parasit cryptosporidium atau microsporidium menyebabkan diare yang terjadi pada banyak Odha. Organisme-organisme ini mengganggu proses penyerapan makanan di usus halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar.
Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.
• Host penyakit diare
Hospes definitif adalah hospes tempat parasit, hidup dan tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak secara seksual. Hospes dari penyakit diare adalah manusia.
• Environment
Penyakit diare dipengaruhi oleh factor lingkungan fisik yaitu berupa air dan sanitasi makanan yang buruk, lingkunga biologi penyakit diare yaitu rotavirus, bakteri, dan juga Segala flora dan fauna yang berada di sekitar manusia. Sedangkan lingkungan sosial penyakit diare dipengaruhi oleh konsumsi makanan jajanan sekolah yang tidak terjamin kebersihannya, lingkungan tempat tinggal, peran keluarga ,kebiasaan hidup masyarakat, sistem pelayanan kesehatan yang masih kurang memadai ,dan ekonomi.

D.Jenis-jenis Diare
1. Diare akut
2. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor) berdampak pada infeksi sistemik (menyeluruh) berat,dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi(kekurangan) vitamin dan mineral
3. Disentri adalah diare disertai darahdengan ataupun tanpa lender
4. Kholera adalah diare dimana tinjanya terdapat bakteri Cholera
5. Diare persisten = lebih dari 2 minggu


E.Gejala-gejala timbulnya diare

Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari, Khas berak-berak air (watery), berbusa, tidak ada darah atau lendir, dan berbau asam. yang kadang disertai:
• Muntah
• Badan lesu atau lemah
• Panas
• Tidak nafsu makan
• Darah dan lendir dalam kotoran
Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan.
Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium), sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak. Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kuran.

F.Pengobatan Diare
Pengobatan Diare dengan oralit merupakan penemuan terbesar jaman ini menurut WHO. Tetapi banyak dokter dan pasien tidak sadar untuk memakai obat sederhana ini dari mulanya. Hal ini agaknya disebabkan karena oralit tidak langsung dirasakan manfaatnya untuk menghentikan diare dan malah dapat menginduksi muntah. Semua ini terjadi karena WHO, UNICEF, dan Departemen Kesehatan tidak memberitahu cara pemakaian oralit yang benar. Bila oralit dicampur 1 sachet dalam segelas (200 cc) air dan diteguk sekaligus maka sering penderita akan muntah dan terasa akan buang air besar lagi.
Cara minum oralit ini salah. Yang benar ialah bahwa larutan oralit harus diteguk sedikit demi sedikit, 2-3 teguk dan berhenti 3 menit untuk memberi kesempatan oralit diserap oleh usus dan menggantikan garam dan cairan yang hilang dalam feses. Prosedur ini harus diulang terus menerus sampai 1 gelas habis. Bila diare masih berlanjut secara profus maka minum oralit harus diteruskan sampai beberapa bungkus/gelas (3-8) sehari. Tindakan ini biasanya akan menghentikan diare dengan cepat dan efisien.

Kalau oralit tidak ada buatlah larutan garam gula. Ambillah air teh (masak) 1 gelas. Masukkan dua sendok teh peres gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur. Diaduk rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum. Bila diare tak terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali bawalah segera ke Puskesmas.
Obat-obat yang biasanya dipergunakan adalah asam amino Lglutamin, bismuth subsalisilat, atapulgit dan loperamid. Beberapa produk lain yang biasanya dijual untuk mengobati sembelit juga dapat membantu dengan diare. Produk ini mengandung serat larut, yang menambah besarnya kotoran dan menyerap air. Produk ini termasuk produk yang mengandung psylium.

G.Pengendalian Diare
I.Pengendalian Diare Pada Anak
• Penanganan Yang terbaik adalah tetap memberikan makanan dan minum (ASI) seperti biasa. Bila sudah disertai muntah, untuk pengantian cairan anda dapat memberikan pedialyte ( oralit unutk anak-anak dengan beberapa rasa). Kurangi makanan yang mengandung terlalu banyak gula. Ingat memang tidak mudah memberikan anak cairan yang agak terasa asin ini, bahkan beberapa anak akan menolaknya. Tapi bersabarlah dan tetap berusaha mencari jalan supaya anak dapat meminum cairan ini.
• Dan yang paling terpenting adalah membuat anak kembali kemakanan padatnya (susu formulanya/ASI) karena ini adalah yang terbaik untuk mengobati diarenya. Karena sel-sel usus yang dirusak oleh virus memerlukan nutrisi untuk pembentukan kembali. Penelitian menyatakan bahwa pemberian makanan seperti biasanya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare ini.
• Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Tak kalah penting adalah pemberian ASI minimal 6 bulan. Sebab, di dalam ASI terdapat antirotavirus yaitu imunoglobulin. Makanya, anak-anak yang minum ASI eksklusif jarang menderita diare. Selain ASI, imunisasi campak ternyata bisa mencegah diare.
• Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
• Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci tangan untuk seluruh anggota keluarga. Cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan makanan untuk si kecil.
• Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
• Hubungi dokter anda, bila:
 Diare disertai darah, perlu pengobatan spesifik dengan antibiotika.
 Adanya tanda-tanda dehidrasi ( tidak ada air mata ketika menangis, kencing berkurang atau tidak ada kencing dalam 6-8 jam, mulut kering)
 Adanya panas tinggi (.38.5C) yang tidak turun dalam 2 hari.
 Muntah terus menerus - tidak dapat masuk makanan / asi.
 Adanya sakit perut – kolik, pada bayi akan menangis kuat dan biasanya menekuk kaki, keringatan dan gelisah.
II.Pengendalian Diare Pada Orang dewasa
• Mengubah apa yang kita makan.Beberapa jenis makanan dapat mengakibatkan diare, dan yang lain dapat membantu menghentikannya. Hindari makan makanan yang berserat seperti agar-agar, sayur dan buah karena makanan berserat hanya akan memperpanjang masa diare. Makanan berserat hanya baik untuk penderita susah buang air besar. Bagi penderita diare sebaiknya makan makanan rendah serat dah halus seperti bubur nasi atau nasi lemes dengan lauk telur asin. Di sini nasi akan menjadi gula untuk memberikan energi, sedangkan telur asin akan memberikan protein dan garam untuk menahan mencret dan sebagai zat pembangun tubuh.
• Jangan makan:
 produk susu (susu atau keju)
 masakan yang digoreng
 makanan berlemak termasuk mentega, margarin, minyak atau kacang
 makanan pedas
 makanan yang mengandung banyak serat yang tidak larut. Ini termasuk buah-buahan atau sayuran mentah, roti gandum, jagung, atau kulit dan biji buahan
• Sebaiknya makan:
 Pisang
 nasi putih
 saus apel
 sereal
 roti tawar bakar atau biskuit kraker
 makaroni atau mie biasa
 telur rebus
 bubur gandum
 kentang rebus tumbuk
 yoghurt (walau ini produk susu, makanan ini sebagian dicernakan oleh bakteri yang dipakai untuk membuatnya)
• Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting:
 sebelum makan,
 setelah buang air besar,
 sebelum memegang bayi,
 setelah menceboki anak dan
 sebelum menyiapkan makanan;
• Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi, Sering-seringlah minum air putih yang banyak karena dengan sering buang air besar maka tubuh akan kehilangan banyak cairan yang harus selalu digantikan dengan cairan yang baru. Setiap setelah BAB minumlah satu atau dua gelas air putih atau air mineral yang bersih dan sudah dimasak.
• Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain);
• Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.
• Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70 % efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70 %, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya.
• Istirahat yang cukup
Tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang buang-buang air akan terasa lemah, lemas, lesu, kurang bergairah, dan sebagainya. Untuk itu bagi anda yang sudah merasa sangat lemas sebaiknya meminta izin sekolah atau kantor untuk menghindari dari kemungkinan yang terburuk atau memalukan di tempat umum. Tidur sebanyak-banyaknya namun tidak melupakan waktu makan makanan dan obat harus teratur, banyak minum, beribadah dan berdoa dan lain-lain

Daftar Pustaka
1. Suharyono, 1991. Diare Akut Klinik dan Laboratorium, Rineka Cipta, Jakarta
2. WHO, 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota.
3. Staf pengajar FKUI,2008.parasitologi kedokteran,balai penerbit FKUI, Jakarta
4. Departemen Kesehatan RI, 2009, Promosi kesehatan Diare. Jakarta
5. Azwar,A., 1997. Pengantar Epidemiologi, PT. Bina Rupa Aksara, Jakarta

Karina Fitriani
MAHASISWA FKM UNDIP